Go International, Batik Mangrove Mas Bamat Dibawa ke Amerika

Semarang – KeMANGI. Batik mangrove memiliki nilai jual yang tinggi dikarenakan proses pembuatan dan bahannya yang ramah lingkungan. Selain itu, motifnya juga khas, yaitu bertema mangrove yang tidak dimiliki oleh batik yang umum dijual di pasaran. Karena keunikannya tersebut, maka batik mangrove banyak dilirik oleh berbagai pihak, salah satunya Trialaksita Sari Priska Ardhani, yang kemudian dibawa sebagai buah tangan untuk koleganya di Amerika Serikat (16/7/2022).

Batik mangrove Mas Bamat bermotif Udang.

Anggoro D. B. Saputro (Staf Manajer Operasional) mengatakan bahwa KeMANGI menjual berbagai macam produk dari mangrove, salah satunya batik mangrove Mas Bamat yang diproduksi oleh warga binaan KeSEMaT. Batik mangrove menjadi salah satu produk unggulan dari KeMANGI, disamping produk mangrove lainnya.

“Saat mengikuti lokakarya yang diadakan oleh CIFOR dan IKAMaT, saya melihat pameran batik mangrove,” kata Trialaksita. “Saya tertarik membelinya karena keunikannya,” tambahnya.

Proses pembuatan batik yang dilakukan oleh warga binaan KeSEMaT cukup unik, pasalnya bahan yang digunakan adalah propagul mangrove yang telah jatuh ke tanah dan membusuk, sehingga dalam proses pembuatannya tidak menghasilkan limbah baru.

KeSEMaT telah membina warga binaan pengolah batik mangrove tersebut kurang lebih 10 tahun, untuk mengajarkan bahwa upaya konservasi mangrove dapat dilakukan dengan berbagai macam hal, salah satunya dengan menjadikan limbahnya menjadi pewarna batik yang menghasilkan dari sisi ekonomi.

“Setelah melihat berbagai macam keunikannya tersebut, Mbak Sita membeli produk batik mangrove Mas Bamat untuk dikenalkan di Amerika,” kata Anggoro. “Mbak Sita membeli tiga buah, bermotif Udang, Jeruju dan Bogem. Harapan saya, setelah Amerika, akan menyusul negara-negara lainnya yang dapat melihat keunikan batik mangrove Mas Bamat dari Semarang, Indonesia,” pungkasnya. (ADM/ADBS/AP).

Leave a Reply

Your email address will not be published.