Teliti Ekonomi Hijau, BRIN Kunjungi Warga Binaan KeSEMaT di Semarang Mangrove Center

Semarang – KeMANGI. KeMANGI mendapat kunjungan dari tim Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dalam rangka Riset Kajian Kualitatif Pendataan Long Form Sensus Penduduk (SP) 2020 untuk mengetahui pembangunan ekonomi hijau dan kondisi sosial demografi penduduk Indonesia di Kota Semarang. Salah satu tempat riset kajian mereka adalah Mangkang Wetan dan Mangunharjo di Semarang Mangrove Center (SMC) Jawa Tengah (Jateng), untuk mewawancarai warga binaan KeSEMaT, terkait pengolahan produk olahan mangrove bukan kayu. (21/6/2022).

Kunjungan ke Bina Citra Karya Wanita dan Srikandi Pantura.

Anggoro D. B. Saputro (Staf Manajer Operasional) mengatakan bahwa KeSEMaT memiliki tiga warga binaan yang berada di Mangkang Wetan dan Mangunharjo, yaitu kelompok pengolah batik, jajanan dan kopi mangrove.

“Pada awalnya, saya beserta kelompok saya, tidak memiliki pekerjaan apapun, melainkan hanya menjadi ibu rumah tangga,” jelas Mufidah, selaku warga binaan KeSEMaT. “Setelah itu, KeSEMaT datang dan membina saya dan kelompok, untuk dapat mengolah mangrove menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis tinggi, seperti batik dan jajanan mangrove,” lanjutnya.

Diskusi terkait olahan batik dan jajanan mangrove terus berlanjut. Mufidah menjelaskan bahwa di wilayah Mangkang Wetan dan Mangunharjo ditemukan jenis Rhizophora dan Bruguiera, salah dua jenis mangrove yang cocok diolah menjadi batik dan jajanan mangrove.

Diskusi dan wawancara produk olahan mangrove.

“Selain itu, di sini juga tumbuh Avicennia dan jenis mangrove lainnya,” jelas Koordinator Kelompok Bina Citra Karya Wanita dan Srikandi Pantura. “Mayoritas masyarakat di sekitar sini, melakukan penanaman mangrove di tepian tambak ikan mereka untuk penghijauan kawasan pesisir,” tambahnya.

Dinda, salah satu tim dari BRIN baru mengetahui bahwa mangrove memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, yang dapat diolah menjadi kain batik, jajanan dan juga kopi mangrove.

“Pada awalnya, saya hanya mengira bahwa mangrove ialah tumbuhan pesisir yang tak memiliki nilai penting, selain menahan laju ombak,” kata Dinda.

Penelitian dilanjutkan dengan mewawancarai Ali dan Anwar, selaku mitra kerja KeMANGI dan KeSEMaT yang berprofesi sebagai petani mangrove.

“Saya sudah tua untuk melakukan kegiatan pelestarian mangrove lagi, oleh karenanya saya menginginkan adanya penerus kegiatan ini,” jelas Ali. “Saya sangat senang, karena beberapa warga di sini, seperti Ibu Mufidah, Bapak Anwar dan Bapak Ferry, meneruskan kegiatan saya untuk melakukan upaya pelestarian mangrove. Saya juga berharap bahwa generasi selanjutnya, seperti KeSEMaT dapat meneruskan kegiatan mulia ini,” harapnya.

Foto bersama selepas wawancara.

Sementara itu, Maslim dari BRIN menjelaskan bahwa tujuan mereka mendatangi warga binaan KeSEMaT sudah tepat, sesuai dengan tujuan program yang dilaksanakan. Selain itu, jawaban yang dilontarkan oleh warga binaan KeSEMaT juga sangat berhubungan dengan hasil wawancara di tempat lainnya.

“Meskipun saya bukan termasuk warga binaan KeSEMaT, akan tetapi saya selalu diajak oleh KeSEMaT untuk bekerja sama dalam pembibitan dan penanaman mangrove,” terang Anwar. “Selain berprofesi sebagai pembibit mangrove, saya juga berprofesi sebagai petambak ikan. Memang, bahwasannya antara tambak dan mangrove adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” tambahnya.

Setelah berdiskusi mengenai kegiatan perekonomian hijau dengan warga binaan dan mitra kerja KeSEMaT, BRIN tak lupa membeli beberapa olahan mangrove tersebut untuk dijadikan buah tangan, sebelum kembali ke Jakarta. Kegiatan yang dimulai pada pukul 10.00 WIB hingga pukul 16.30 WIB ini, ditutup dengan foto bersama. (ADM/ADBS/AP).

Leave a Reply

Your email address will not be published.