Semarang – KeMANGI. Program Adopsi Mangrove merupakan program pelestarian ekosistem mangrove di wilayah pesisir Indonesia. Dalam pelestarian melalui penanaman bibit mangrove, diperlukan pemantauan secara berkala dan berkelanjutan. Oleh karena itu, untuk memastikan bibit mangrove hasil Program Adopsi Mangrove dapat tumbuh dengan baik dan maksimal, KeMANGI kembali melaksanakan kegiatan lanjutan setelah tiga bulan penanaman. (23/6/2026).

Proses pemantauan: pengukuran ketinggian bibit mangrove.
Program Pelestarian Pesisir: Adopsi Mangrove
Program Adopsi Mangrove merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari KeMANGI, yang berfokus pada pelestarian wilayah pesisir di Indonesia, khususnya ekosistem mangrove, serta pengelolaan dan pemanfaatan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. .
Pemantauan kali ini dilakukan terhadap bibit mangrove yang telah ditanam pada Maret 2026. Melalui Program Adopsi Mangrove, masyarakat, komunitas, lembaga, maupun berbagai pihak lainnya dapat berpartisipasi dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir, khususnya rehabilitasi ekosistem mangrove.
Kegiatan pemantauan terdiri atas beberapa tahapan, salah satunya monitoring dan evaluasi (monev). Tim KeMANGI melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi dan pertumbuhan bibit mangrove setelah tiga bulan penanaman. Selain itu, kondisi lingkungan dan habitat di sekitar bibit turut diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya sebagai lokasi tumbuh mangrove.
Implementasi Pemantauan Bibit Mangrove Hasil Adopsi Mangrove
Pada pemantauan kali ini dilaksanakan oleh Rena Sagita (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan). Keduanya memantau bibit mangrove hasil Program Adopsi Mangrove pada bulan Juni 2026 dari empat individu dan satu lembaga pengadopsi dengan total 51 bibit.

Proses pemantauan: penghitungan bibit tumbuh dan gagal tumbuh.
Pengadopsi dan jumlah bibitnya, di antaranya Yenthe van Hulten yang mengadopsi empat bibit, Mees Venderink, Anastasia Kotoudi, dan Maaike Jongepier yang mengadopsi satu bibit, dan PT Versuni Homelife Indonesia melalui Program “Beli Ecobag = Tanam Pohon” sebanyak 44 bibit.
Kegiatan pemantauan Program Adopsi Mangrove berupa monitoring dan evaluasi (monev), di antaranya dilakukan dengan kegiatan pengambilan data jumlah bibit tumbuh dan gagal tumbuh, rata-rata tinggi bibit pada saat penanaman dan pemantauan, persentase kelulushidupan, dan persentase pertumbuhan.
Hasil Pemantauan Program Adopsi Mangrove Bulan Maret 2026
Hasil monev yang ada selanjutnya digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan penanaman sebelumnya dan Program Adopsi Mangrove selanjutnya, sekaligus menjadi dasar dalam menentukan tindak lanjut yang diperlukan, seperti penyulaman bibit yang gagal tumbuh, pemeliharaan, dan penyesuaian strategi pengelolaan pada periode pemantauan berikutnya.
Dengan demikian, kegiatan pemantauan tidak hanya berfungsi untuk mendokumentasikan kondisi bibit, tetapi juga mendukung pelaksanaan Program Adopsi Mangrove secara terukur dan berkelanjutan.
Dari hasil pemantauan, dari 51 bibit yang dipantau dari para pengadopsi, bibit-bibit tersebut menunjukkan hasil yang baik, rata-rata persentase kelulushidupan berada di angka 99,55%, di antaranya 50 bibit berhasil tumbuh dan satu bibit gagal tumbuh yang berarti bibit mangrove dapat tumbuh dengan baik dan masuk ke dalam kategori baik dalam rehabilitasi mangrove.

Kondisi bibit mangrove pada saat pemantauan.
“Pada bulan Juni 2026, KeMANGI kembali melaksanakan kegiatan pemantauan rutin yang setiap bulan dilaksanakan untuk memantau hasil Program Adopsi Mangrove. Kali ini, pemantauan dilakukan pada bibit mangrove yang telah ditanam di bulan Maret 2026,” kata Agape. “Jumlah bibit yang dipantau sebanyak 51 bibit mangrove dari empat individu yang berasal dari Belanda dan satu lembaga, yaitu PT Versuni Homelife Indonesia dalam Program “Beli Ecobag = Tanam Pohon” hasil kerja sama IKAMaT, KeMANGI, dan PT Versuni Homelife Indonesia. Hasil menunjukkan pertumbuhan dan kelulushidupan yang baik. Rata-rata persentase kelulushidupan mencapai 99,55% dan rata-rata pertumbuhan mencapai 35,37% dari tinggi bibit pada saat penanaman,” tambahnya.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan rehabilitasi ekosistem mangrove telah memberikan hasil yang baik, mengingat kawasan pesisir merupakan wilayah yang sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan.
Hasil pemantauan ini juga menunjukkan pentingnya kegiatan monitoring dan evaluasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Program Adopsi Mangrove. Penanaman mangrove tidak berhenti pada tahap penanaman bibit, tetapi perlu dilanjutkan dengan pemantauan kondisi, pertumbuhan, dan kelulushidupan secara berkala.
Melalui pendekatan tersebut, KeMANGI berharap setiap kegiatan rehabilitasi dapat dilaksanakan secara lebih terukur, adaptif, dan berkelanjutan sehingga bibit yang tumbuh mampu memberikan manfaat ekologis bagi kawasan pesisir serta masyarakat di sekitarnya.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00–11.00 WIB ini berjalan baik dan lancar yang diakhiri dengan sesi pendokumentasian hasil pemantauan untuk keperluan pelaporan dan evaluasi lebih lanjut. (ADM/ARH/ALA/AP).
