Penanaman Mangrove Semarang September 2026: Dukung Pelestarian Ekosistem Pesisir, Pengadopsi dari Keluarga hingga Individu, Adopsi Total 19 Bibit Mangrove di SMC Jateng, Semarang

Semarang – KeMANGI. Cuaca panas yang saat ini nyata kita rasakan, baik pada siang maupun malam hari, merupakan salah satu dampak yang dapat dirasakan dari perubahan iklim. Perubahan iklim menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata bumi, memperparah berbagai fenomena alam dan cuaca ekstrem, serta membuat pola musim dan cuaca semakin sulit diprediksi. Salah satu penyebab dari perubahan iklim adalah deforestasi dan degradasi hutan yang ada hingga yang tersisa saat ini. (30/9/2026).

Penanaman 19 bibit mangrove di SMC Jateng sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim.

Proses implementasi Program Adopsi Mangrove.

Perubahan Iklim dan Kerusakan Ekosistem Pesisir

Fenomena tersebut tidak terlepas dari kerusakan hutan yang telah terjadi selama beberapa dekade. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan dan meningkatkan ancaman bencana yang dapat terjadi. Hal serupa juga terjadi pada kawasan hutan pesisir, khususnya ekosistem mangrove, yang memiliki berbagai fungsi penting bagi lingkungan. Dengan terdegradasinya hutan mangrove, berbagai manfaat yang terkandung di dalam ekosistem tersebut juga dapat berkurang atau bahkan hilang.

Mangrove sebagai Bagian dari Upaya Menghadapi Perubahan Iklim

Ekosistem mangrove tidak hanya berperan dalam menghasilkan oksigen, tetapi juga memiliki berbagai fungsi ekologis lainnya. Ekosistem ini menjadi habitat bagi beragam keanekaragaman hayati serta secara fisik dapat membantu melindungi kawasan di belakangnya dari ancaman gelombang dan badai. Selain itu, ekosistem mangrove dikenal sebagai salah satu ekosistem yang memiliki kemampuan besar dalam menyimpan karbon.

Oleh karena itu, pelestarian dan perlindungan ekosistem mangrove perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang saat ini semakin nyata dirasakan.

Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan pelestarian dan perlindungan ekosistem mangrove. Berbagai kendala, seperti keterbatasan waktu, kondisi, maupun situasi, dapat menjadi faktor yang membuat seseorang tidak dapat terlibat langsung dalam kegiatan di lapangan.

Dengan ini, KeMANGI kemudian menginisiasi sebuah program yang memudahkan setiap pihak untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian dan perlindungan ekosistem mangrove. Setiap orang dapat mengadopsi sejumlah bibit mangrove dan dari Tim KeMANGI akan membantu mengimplementasikan penanaman untuk bibit mangrove tersebut serta akan dilaksanakan pemantauan terhadap bibit yang telah ditanam. Program tersebut adalah Adopsi Mangrove.

Salah satu tagging dan bibit mangrove Adopsi Mangrove bulan September 2026.

Penanaman 19 Bibit Mangrove di SMC Jateng, Semarang

Program ini dilaksanakan dan diimplementasikan dalam periode tertentu, dengan partisipasi dari para pengadopsi yang kemudian diakumulasikan dalam periode tersebut. Pada September 2026, Program Adopsi Mangrove diikuti oleh berbagai pihak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Pada periode ini, pengadopsi berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari keluarga hingga individu.

Implementasi Adopsi Mangrove

Pengadopsi yang berasal dari keluarga dalam implementasi ini di antaranya adalah Hendriyono Family dan Bagus R. D. Angga Family atas nama Bagus, Upa, dan Tiwi. Adopsi Mangrove atas nama keluarga menjadi salah satu bentuk partisipasi bersama dalam menjaga kelestarian alam, khususnya melalui upaya pelestarian dan perlindungan ekosistem mangrove. Hendriyono Family mengadopsi empat bibit mangrove, sedangkan Bagus R. D. Angga Family mengadopsi satu bibit mangrove.

Selain keluarga, implementasi kali ini juga diikuti oleh beberapa pengadopsi individu. Keuangan AN/Kesya Amanda mengadopsi empat bibit mangrove sebagai bentuk partisipasi dalam perlindungan alam. Tosan Aji Rifel Pranata mengadopsi satu bibit mangrove dalam rangka merayakan pencapaian baru sekaligus berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan. Sementara itu, Alivia Andira Putri Pulungan mendapatkan hadiah berupa adopsi empat bibit mangrove dari keluarga terkasih.

Pengadopsi individu lainnya adalah Julian, Koi, Reinard, Neme, dan Beby yang masing-masing mengadopsi satu bibit mangrove. Secara keseluruhan, Program Adopsi Mangrove pada implementasi ini mencatat 19 bibit mangrove yang seluruhnya merupakan jenis Rhizophora mucronata.

Program Adopsi Mangrove kali ini dilaksanakan di kawasan Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng), yang dilaksanakan oleh Tim KeMANGI dan menyambut baik kegiatan Program Adopsi Mangrove ini.

Penanaman 19 bibit mangrove di SMC Jateng sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim.

Hasil penanaman bibit mangrove Adopsi Mangrove periode ini.

“Salam Mangrover!, kami dari Tim KeMANGI telah berhasil melaksanakan Program Adopsi Mangrove dengan kegiatan penanaman bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata sejumlah 19 bibit mangrove dari pengadopsi yang berasal dari keluarga dan individu dalam rangka pelestarian ekosistem pesisir, hadiah untuk orang terkasih, hingga bentuk rasa syukur atas pencapaian baru,” ujar Bambang. “Semoga bentuk kepedulian terhadap lingkungan ini menjadi satu langkah memberikan kebaikan untuk bumi kita. Selain itu, bibit yang ditanam tadi juga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat di sekitarnya dan lingkungan, Semangat Mangrover!,” tambahnya.

Partisipasi Masyarakat dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Melalui Program Adopsi Mangrove, KeMANGI berupaya membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat untuk turut mengambil bagian dalam pelestarian ekosistem mangrove. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari kegiatan bersama keluarga, bentuk hadiah untuk orang terkasih, hingga ungkapan rasa syukur atas pencapaian tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari berbagai momen dalam kehidupan.

Sebanyak 19 bibit Rhizophora mucronata yang diadopsi pada September 2026 kini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem mangrove di kawasan SMC Jateng, Semarang. Penanaman tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan, tetapi dapat dilanjutkan melalui pemantauan dan perawatan agar bibit yang ditanam dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

KeMANGI berharap Program Adopsi Mangrove dapat terus menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenal, memahami, dan turut berkontribusi dalam menjaga ekosistem mangrove. Setiap bibit yang diadopsi menjadi bagian dari langkah bersama untuk menjaga kawasan pesisir agar tetap memiliki fungsi ekologis dan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat di sekitarnya secara berkelanjutan.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00–11.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan. (ADM/ARH/BJL/AP).