Semarang – KeMANGI. Melalui inisiatif Community Social Responsibilty (CSR), KeMANGI kembali melaksanakan kegiatan penanaman dan pemantauan bibit mangrove dalam program Adopsi Mangrove di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah. Kali ini, pihak yang mengadopsi berasal dari Belanda, yang menandakan meningkatnya perhatian global terhadap pentingnya menjaga kelestarian ekosistem mangrove beserta manfaatnya yang signifikan. (16&23/7/2025).
Proses penanaman bibit mangrove hasil Adopsi Mangrove.
Perhatian masyarakat Indonesia, bahkan global, terhadap konservasi ekosistem mangrove terus bertambah. Peningkatan ini disebabkan oleh fungsi vital ekosistem mangrove dalam menyerap dan menyimpan karbon dalam skala besar sehingga berkontribusi pada pengurangan dampak perubahan iklim dengan mengurangi jejak emisi karbon di udara.
Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) menyampaikan bahwa kemampuan ekosistem mangrove dalam menyimpan karbon, tiga hingga lima kali lebih besar apabila dibandingkan dengan hutan terestrial. Hal tersebut, menjadikan ekosistem mangrove menjadi salah satu upaya paling efektif dalam meghapus dan menebus jejak emisi karbon di bumi.
Pengadopsi yang ikut dalam gerakan konservasi ekosistem mangrove dan pengurangan jejak emisi karbon di bumi adalah Martijn van den Heuvel, John Koomen, Esmay Klaverweide, Eelke Riemersma, Petra de Beij, Janet Kamstra, Kelsey de Bruin, Jim de Vries, Nadine Blom, Judith Ahsmann, Ashley van den Bosch, K. J. de Maa, Roxan Havik, Anouk de Groot, Luc de Beer, Emiel Passchier, dan Susan Beukers yang mengadopsi masing-masing empat bibit, serta Laura Heuven yang mengadopsi satu bibit, pengadopsi asal Belanda yang semuanya berjenis Rhizophora mucronata dalam program Adopsi Mangrove.
Bibit mangrove hasil Adopsi Mangrove berjumlah 69 bibit dari 18 pengadopsi.
“Dua hari ini, kami menanamankan 69 bibit mangrove dari pengadopsi asal Belanda yang berjumlah 18 orang,” kata Bambang. “Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terkait ekosistem mangrove telah mengglobal, walaupun di negara asal mereka bisa dibilang tidak ada ekosistem mangrove. Selain itu, harapannya bibit mangrove yang telah ditanam dapat memiliki banfaat bagi masyarakat dan lingkungan di pesisir SMC Jateng, Semarang,” tambahnya.
KeMANGI telah berkolaborasi dengan sebuah yayasan dari Belanda, yaitu Mangrovedopsi, sebuah platform yang berfokus pada pemulihan dan konservasi ekosistem mangrove. Platform ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai fungsi vital mangrove dalam melindungi garis pantai, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menghadapi perubahan iklim. Mangrovedopsi berawal dari inisiatif seorang mahasiswi Belanda yang sangat peduli terhadap isu lingkungan, dan kini telah menjadi platform yang mengkhususkan diri pada program adopsi serta pemulihan ekosistem mangrove.
Saat ini, melalui program Adopsi Mangrove yang diinisiasi oleh KeMANGI, bibit mangrove yang berhasil tumbuh sudah mencapai ribuan bibit sehingga dapat ikut serta dalam berkontribusi mengembalikan ekosistem mangrove di Indonesia, khususnya SMC Jateng, Semarang dan menghapus jejak emisi karbon di bumi.
Kegiatan yang berlangsung dua hari pada tanggal 16 dan 23 Juli 2025, mulai pukul 09.00–11.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan. (ADM/ARH/ALA/BJL).
