Semarang – KeMANGI. Kali ini KeMANGI kembali melaksanakan pemantauan bibit mangrove berupa monitoring dan evaluasi (monev), setelah dilaksanakan penanaman bibit mangrove melalui program Adopsi Mangrove tiga bulan yang lalu. Pemantauan ini bertujuan untuk mengukur persentase kelulushidupan serta pertumbuhan bibit mangrove yang telah ditanam. (10/7/2025).
Proses pengukuran tinggi bibit mangrove pada saat pemantauan.
Kegiatan ini merupakan langkah penting dalam memastikan keberhasilan rehabilitasi dam konservasi ekosistem mangrove, dengan tujuan menjaga agar tingkat kelulushidupan tetap tinggi dan bibit dapat tumbuh secara optimal sesuai kondisi lingkungan. Hasil pemantauan ini juga menjadi dasar evaluasi untuk perbaikan metode penanaman maupun perencanaan tindak lanjut yang lebih efektif.
Pemantauan kali ini dilakukan di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng) oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) yang memantau bibit dari pengadopsi asal Tanggerang Selatan, yaitu Nuki Adiati yang mengadopsi empat bibit mangrove berjenis Rhizophora mucronata.
Kondisi bibit mangrove setelah tiga bulan penanaman.
“Setelah tiga bulan penanaman, kami melaksanakan pemantauan bibit mangrove hasil Adopsi Mangrove. Kali ini, kami memantaukan empat bibit mangrove dari pengadopsi Nuki Adiati,” kata Bambang. “Setelah melalui masa kritis bibit mangrove, dilakukan evaluasi terhadap hasil yang didapatkan. Bibit berhasil tumbuh, gagal tumbuh, dan tinggi bibit dihitung, lalu didapatkan persentase kelulushidupan dan pertumbuhannya,” tambahnya.
Hasil monev menunjukkan bahwa bibit mangrove memiliki persentase kelulushidupan hampir sempurna, yakni 100% dengan persentase pertumbuhan yang signifikan mencapai 43,18% dari tinggi bibit tiga bulan yang lalu. “Pemantauan yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang sempurna, dengan persentase kelulushidupan sebesar 100% dan pertumbuhan tinggi mencapai 43,18% dibandingkan saat penanaman,” ujar Bambang. “Dengan hasil yang baik ini, bibit mangrove harapannya dapat tumbuh dengan lebih baik kedepannya sehingga menjadi habitat flora dan fauna di ekosistem pesisir dan sebagai upaya mitigasi perubahan iklim,” jelasnya lebih lanjut.
Tagging dan kondisi bibit mangrove segar dan hijau.
Ekosistem mangrove dikenal sebagai salah satu penyerap dan penyimpan karbon (carbon sink) paling efisien di dunia. Hutan mangrove mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar, baik melalui biomassa vegetasi (batang, daun, dan akar), maupun melalui lapisan tanahnya yang kaya akan bahan organik.
Kemampuan ini menjadikan mangrove berperan penting dalam upaya penyerapan emisi karbon secara alami. Oleh karena itu, setiap bibit mangrove yang berhasil tumbuh diharapkan dapat menyumbang dalam menyimpan karbon dan mendukung mitigasi perubahan iklim secara berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00–11.00 WIB ini berjalan baik dan lancar yang diakhiri dengan sesi pendokumentasian hasil pemantauan untuk keperluan pelaporan dan evaluasi lebih lanjut. (ADM/ARH/AP).
