Hapus Jejak Emisi Karbon di Bumi, 10 Pengadopsi Mangrove Asal Belanda, Adopsi 22 Bibit Mangrove di SMC Jateng, Semarang

Semarang – KeMANGI. Melalui Program Adopsi Mangrove, KeMANGI kembali melaksanakan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR)-nya, yaitu penanaman dan pemantauan bibit mangrove di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng). Kali ini, pihak yang mengadopsi berasal dari Belanda. Hal ini menandakan meningkatnya perhatian global terhadap pentingnya pelestarian ekosistem mangrove, mengingat manfaatnya yang sangat signifikan bagi lingkungan, ekonomi, dan mitigasi perubahan iklim. (1&14&26/10/2025).

Penanaman bibit mangrove hasil Adopsi Mangrove.

Upaya dalam mitigasi perubahan iklim telah menjadi perhatian masyarakat di seluruh dunia saat ini. Bahkan telah menjadi pembahasan tahunan yang dilaksanakan oleh negara-negara melalui organisasi internasional. Oleh karena itu, banyak masyarakat dunia melaksanakan penanaman dan reboisasi untuk mengurangi jejak emisi karbon di bumi.

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem yang sedang gencar untuk dilaksanakan rehabilitasi dan konservasi. Hal ini disebabkan oleh fungsi vital ekosistem mangrove dalam menyerap dan menyimpan karbon dalam skala besar sehingga berkontribusi pada pengurangan dampak perubahan iklim dengan mengurangi jejak emisi karbon di udara.

Bibit yang telah ditanam dari pengadopsi Asal Belanda.

Pengadopsi yang ikut dalam gerakan rehabilitasi dan konservasi ekosistem mangrove dan pengurangan jejak emisi karbon di bumi adalah Kees van der Sar, Bas van Halen, Mark Wildschut, dan Jan Brandt Wiersma yang mengadopsi masing-masing empat bibit, serta Ernst-jan Rutjes, Fleurin de beer, Margreet Theunis, Bjorn Mattijssen, Jasper Tonissen, dan Jeroen Haans yang mengadopsi satu bibit yang semuanya berjenis Rhizophora mucronata dalam program Adopsi Mangrove ini.

“Pada bulan Oktober 2025 ini, kami membantu menanaman dan memantaukan 22 bibit mangrove Program Adopsi Mangrove dari pengadopsi asal Belanda yang berjumlah 10 orang,” kata Agape. “Dari hal tersebut, kita mengetahui bahwa kepedulian terhadap ekosistem mangrove telah merambah ke dunia internasional. Hal ini dikarenakan manfaatnya yang sangat besar bagi keberlangsungan ekosistem di bumi sebagai ekosistem yang sangat penting,” tambahnya.

Tagging dari salah satu pengadopsi, yaitu Mark Wildschut.

KeMANGI telah menjalin kolaborasi dengan sebuah yayasan asal Belanda bernama Mangrovedopsi, yaitu platform yang berfokus pada pemulihan dan konservasi ekosistem mangrove. Platform ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai fungsi vital mangrove dalam melindungi garis pantai, menjaga keanekaragaman hayati, serta menghadapi dampak perubahan iklim. Mangrovedopsi berawal dari inisiatif seorang mahasiswi Belanda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan, dan kini berkembang menjadi platform yang secara khusus menjalankan program adopsi dan pemulihan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

Saat ini, melalui program Adopsi Mangrove yang diinisiasi oleh KeMANGI, bibit mangrove yang berhasil tumbuh sudah mencapai ribuan bibit sehingga dapat ikut serta dalam berkontribusi mengembalikan ekosistem mangrove di Indonesia, khususnya SMC Jateng, Semarang dan menghapus jejak emisi karbon di bumi.

Kegiatan yang berlangsung dua hari pada tanggal 1, 14, dan 26 Oktober 2025, mulai pukul 09.00–11.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan. (ADM/ARH/ALA/AP).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *