Semarang – KeMANGI. Setelah tiga bulan dilaksanakan penanaman bibit mangrove program Adopsi Mangrove, selanjutnya dilaksanakan pemantauan mangrove, yaitu monitoring dan evaluasi (monev) untuk mengetahui persentase kelulushidupan dan pertumbuhan bibit mangrove. Hal ini dilakukan guna memantau dan menjaga persentase kelulushidupan bibit mangrove memiliki nilai yang tinggi. (10/7/2024).
Proses pemantauan tinggi bibit mangrove.
Pemantauan bibit mangrove adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengamati, mencatat, dan mengevaluasi perkembangan bibit mangrove yang telah ditanam dalam kurun waktu tertentu. Proses ini bertujuan untuk mengetahui persentase kelulushidupan, pertumbuhan, serta kondisi lingkungan sekitar bibit sehingga dapat menjadi dasar dalam menentukan keberhasilan program konservasi dan rehabilitasi mangrove dan langkah tindak lanjut yang diperlukan. Kali ini, pemantauan dilaksanakan untuk memantau bibit hasil Adopsi Mangrove oleh Semarang Multinational School (SMS).
Pemantauan kali ini dilakukan oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) yang memantau bibit dari program Adopsi Mangrove sebanyak 1.084 bibit mangrove berjenis Rhizophora mucronata di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng).
Kondisi bibit mangrove hasil Adopsi Mangrove oleh SMS.
“Hari ini kami memantaukan bibit mangrove hasil program Adopsi Mangrove oleh Semarang Multinational School yang telah ditanam tiga bulan yang lalu,” kata Bambang. “Setelah tiga bulan penanaman bibit mangrove, akan dilaksanakan pemantauan bibit mangrove dan dilakukan evaluasi terhadap hasil yang didapatkan. Bibit mangrove yang dipantau kali ini berjumlah 1.084 bibit,” tambahnya.
Hasil monev menunjukkan bahwa bibit mangrove memiliki persentase kelulushidupan yang baik, yakni 66,42% dengan persentase pertumbuhan yang signifikan mencapai 45,45% dari tinggi bibit tiga bulan yang lalu.
“Pemantauan yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang baik dengan kelulushidupan sebesar 66,42% dengan rincian 720 bibit berhasil tumbuh dan 364 bibit gagal tumbuh, serta persentase pertumbuhan sebesar 45,45%,” kata Bambang. “Diharapkan, mangrove yang telah ditanam melalui program Adopsi Mangrove sejak awal hingga saat ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam memulihkan ekosistem pesisir di Kota Semarang. Selain berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, mangrove juga memiliki kemampuan menyimpan karbon hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Potensi ini menjadikan mangrove sebagai salah satu solusi alami yang paling efektif dalam upaya pengurangan jejak emisi karbon dan mitigasi perubahan iklim,” jelasnya lebih lanjut.
Tagging dan kondisi bibit mangrove pada saat pemantauan.
Ekosistem mangrove dikenal sebagai salah satu penyimpan karbon (carbon sink) paling efisien di dunia. Kemampuannya menyimpan karbon empat hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan menjadikan mangrove sebagai solusi alami yang sangat efektif dalam upaya penghapusan jejak emisi karbon. Ekosistem mangrove menyimpan karbon dalam jumlah besar di bawah tanah dan dalam biomassanya dalam jangka waktu yang sangat lama.
Selain menyimpan karbon, mangrove juga memberikan berbagai manfaat ekologis, seperti menjaga garis pantai dari abrasi, mendukung keanekaragaman hayati, serta menjadi tempat berkembang biak bagi berbagai spesies ikan dan biota laut lainnya. Oleh karena itu, pelestarian dan rehabilitasi ekosistem mangrove bukan hanya penting untuk mitigasi perubahan iklim, tetapi juga untuk keberlanjutan ekosistem pesisir secara keseluruhan.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00–11.00 WIB ini berjalan baik dan lancar yang diakhiri dengan sesi pendokumentasian hasil pemantauan untuk keperluan pelaporan dan evaluasi lebih lanjut. (ADM/ARH/AP).
