Semarang – KeMANGI. Dalam rangka memastikan bibit mangrove hasil Program Adopsi Mangrove dapat tumbuh dengan baik dan maksimal, Tim KeMANGI kembali melaksanakan kegiatan lanjutan setelah tiga bulan penanaman, yaitu pemantauan. Pemantauan kali ini merupakan pemantauan yang dilakukan untuk memantau bibit mangrove yang telah ditanam di bulan Januari 2026. (22/4/2026).

Proses relokasi bibit mangrove yang mengalami gangguan dalam pertumbuhan.
Adopsi Mangrove sendiri merupakan salah satu program yang dilaksanakan oleh KeMANGI sebagai salah satu lembaga yang memiliki fokus dalam rehabilitasi ekosistem mangrove dan perdagangan produk, baik secara daring maupun luring sebagai salah satu bentuk kampanye yang dilaksanakan.
Khusus Program Adopsi Mangrove, kegiatan berfokus pada rehabilitasi ekosistem mangrove di wilayah pesisir dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat, baik individu, komunitas, maupun lembaga untuk dapat berpartisipasi dalam penanaman dan pemantauan bibit mangrove sebagai salah satu bentuk rehabilitasi ekosistem mangrove.
Setiap individu, lembaga, maupun komunitas yang terkendala oleh waktu, situasi, dan kondisi juga akan dibantu dengan adanya program ini. Selain itu, program ini sering kali dijadikan sebagai bentuk kasih sayang antar sesama, yaitu sebagai hadiah ulang tahun, anniversary, perayaan pencapaian, bahkan hadiah kepada sang idola.
Kegiatan pemantauan Program Adopsi Mangrove terdiri atas kegiatan utama berupa monitoring dan evaluasi (monev), yaitu kegiatan pengambilan data jumlah bibit tumbuh dan gagal tumbuh, rata-rata tinggi bibit pada saat penanaman dan pemantauan, persentase kelulushidupan, dan persentase pertumbuhan.

Salah satu tagging pengadopsi yang dipasang sebagai sarana pemantauan.
Selain itu, berdasarkan kondisi pertumbuhan di lapangan, akan dilakukan juga evaluasi terhadap kondisi lingkungan serta pengaruhnya terhadap hasil pemantauan yang telah diperoleh. Monev dilakukan sebagai upaya memastikan keberhasilan penanaman serta terjaganya kualitas pertumbuhan mangrove di lokasi kegiatan.
Dalam beberapa kondisi, hasil evaluasi penanaman menunjukkan bahwa bibit mangrove perlu direlokasi ke lokasi yang lebih aman. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih optimal.
Pemantauan kali ini dilakukan oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Rena Sagita (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan). Keduanya memantau bibit mangrove hasil Adopsi Mangrove dari delapan pengadopsi dengan total 88 bibit.
Pengadopsi dan jumlah bibitnya, di antaranya Nyoman Ayu Carmenita yang mengadopsi 52 bibit, Airlangga Ario sebanyak delapan bibit, Felicia O. Wijaya sebanyak 20 bibit, serta Keisha Rochelline Simorangkir dan Wisnu C. Pranendhetta yang mengadopsi empat bibit.
“Tim KeMANGI pada bulan ini, bulan April 2026 kembali melaksanakan kegiatan pemantauan bibit mangrove hasil Program Adopsi Mangrove yang telah ditanam tiga bulan yang lalu pada bulan Januari 2026. Kegiatan pemantauan dilakukan untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh dengan baik,” kata Agape. “Selain itu, kegiatan pemantauan ini juga menjadi sarana KeMANGI menilai dan mengevaluasi keberjalanan program yang telah dilaksanakan. Hasil tersebut akan menjadi sebuah laporan singkat yang akan dikirimkan kepada pengadopsi dan bentuk pengembangan program yang labih baik. KeMANGI berharap program ini dapat menjadi salah satu bentuk upaya pelestarian lingkungan sekaligus kampanye mengenai pentingnya ekosistem mangrove,” tambahnya.

Bibit hasil adopsi yang telah direlokasi.
Agape kemudian menambahkan bahwa dalam beberapa kondisi bibit mangrove dapat mengalami gangguan baik dari faktor internal maupun eksternal. Salah satunya adalah gangguan pertumbuhan akibat lokasi yang awalnya sesuai untuk dilaksanakan penanaman berubah menjadi lokasi yang kurang aman karena wilayah pesisir yang sangat dinamis.
Solusi yang dapat ditawarkan KeMANGI adalah kegiatan relokasi. Hal ini juga terjadi pada bibit mangrve yang telah ditanam di tiga bulan yang lalu.
Relokasi merupakan langkah lanjutan yang dilakukan untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh secara optimal. Tindakan ini diperlukan ketika bibit mengalami gangguan serius, seperti serangan hama atau kondisi lingkungan pesisir yang ekstrem dan tidak stabil.
Dengan relokasi, diharapkan persentase kelulushidupan bibit mangrove dapat memiliki nilai yang besar. Relokasi dilakukan dengan cara menanam kembali bibit mangrove di lokasi yang lebih sesuai, menggunakan jumlah bibit yang sama seperti penanaman awal, namun dengan bibit yang baru. Upaya ini merupakan langkah serius dari KeMANGI yang bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan pertumbuhan mangrove serta menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00–11.00 WIB ini berjalan baik dan lancar yang diakhiri dengan sesi pendokumentasian hasil pemantauan untuk keperluan pelaporan dan evaluasi lebih lanjut. (ADM/ARH/ALA/AP).
