Semarang – KeMANGI. KeMANGI kembali melaksanakan kegiatan pemantauan bibit mangrove hasil Adopsi Mangrove yang telah dilaksanakan tiga bulan yang lalu. Pemantauan kali ini merupakan kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk memantau bibit mangrove hasil adopsi yang telah ditanam di bulan Desember 2025. (30/3/2026).

Proses pemantauan Program Adopsi Mangrove bulan Desember 2025.
Adopsi Mangrove sendiri merupakan salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) dari KeMANGI yang bertujuan membantu individu, lembaga dan masyarakat yang ingin melakukan upaya pelestarian ekosistem mangrove dengan cara menanam dan memantau, tetapi terkendala oleh waktu, situasi, dan kondisi.
Kegiatan pemantauan Program Adopsi Mangrove terdiri atas kegiatan utama berupa monitoring dan evaluasi (monev), yaitu kegiatan pengambilan data jumlah bibit tumbuh dan gagal tumbuh, rata-rata tinggi bibit pada saat penanaman dan pemantauan, persentase kelulushidupan, dan persentase pertumbuhan.
Selain itu, berdasarkan kondisi pertumbuhan di lapangan, akan dilakukan juga evaluasi terhadap kondisi lingkungan serta pengaruhnya terhadap hasil pemantauan yang telah diperoleh. Monev dilakukan sebagai upaya memastikan keberhasilan penanaman serta terjaganya kualitas pertumbuhan mangrove di lokasi kegiatan.
Pemantauan dilakukan pada bulan ketiga pasca penanaman dikarenakan pada periode tersebut bibit mangrove umumnya telah melewati tahap adaptasi lingkungan dan fase kritis pertumbuhan awal. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kondisi bibit tetap terpantau sehingga pertumbuhannya dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan setelah berusia tiga bulan.
Dalam beberapa kondisi, hasil evaluasi penanaman menunjukkan bahwa bibit mangrove perlu direlokasi ke lokasi yang lebih aman. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih optimal.
Pemantauan kali ini dilakukan oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Rena Sagita (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan). Keduanya memantau bibit mangrove hasil Adopsi Mangrove dari delapan pengadopsi dengan total 43 bibit.

Bibit hasil relokasi ke lokasi yang lebih sesuai dan aman.
Pengadopsi tersebut antara lain Roh Yuna yang mengadopsi 17 bibit, Ashtine Olviga sebanyak delapan bibit, serta Raisha Syarfuan, Shawn Gabriel, Jolente, dan Shin yang masing-masing mengadopsi empat bibit. Selain itu, Rabin Angeles dan Raoul Nuijten masing-masing mengadopsi satu bibit.
“Pemantauan Adopsi Mangrove kali ini dilaksanakan dengan tujuan memastikan agar bibit mangrove dapat bertumbuh dengan baik, dari hasil pemantauan tersebut akan diambil langkah selanjutnya agar tumbuhan memiliki kelulushidupan yang tinggi,” kata Agape. “Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah relokasi. Relokasi dilakukan apabila bibit mangrove dianggap tidak dapat hidup di lokasi tanam sebelumnya, sehingga perlu dilaksanakan relokasi dengan bibit yang baru dan lokasi yang lebih sesuai untuk bibit mangrove mengalami pertumbuhan,” tambahnya.
Relokasi merupakan langkah lanjutan yang dilakukan untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh secara optimal. Tindakan ini diperlukan ketika bibit mengalami gangguan serius, seperti serangan hama atau kondisi lingkungan pesisir yang ekstrem dan tidak stabil. Dengan relokasi, diharapkan persentase kelulushidupan bibit mangrove dapat memiliki nilai yang besar.
Relokasi dilakukan dengan cara menanam kembali bibit mangrove di lokasi yang lebih sesuai, menggunakan jumlah bibit yang sama seperti penanaman awal, namun dengan bibit yang baru. Upaya ini merupakan langkah serius dari KeMANGI yang bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan pertumbuhan mangrove serta menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00–11.00 WIB ini berjalan baik dan lancar yang diakhiri dengan sesi pendokumentasian hasil pemantauan untuk keperluan pelaporan dan evaluasi lebih lanjut. (ADM/ARH/ALA/AP).
