Belajar Mengenal Produk Olahan Mangrove Bukan Kayu, Mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro Kunjungi Warga Binaan KeSEMaT di SMC Jateng

Semarang – KeMANGI. KeMANGI kembali melakukan program pendampingan kunjungan ke warga binaan KeSEMaT yang mengolah aneka produk olahan mangrove berbahan dasar bukan kayu. Kali ini, kepada para mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Informasi dan Humas Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP). (10/10/2023).

Foto bersama di Sentra Batik dan Jajanan Mangrove Semarang.

Para mahasiswa yang berjumlah 10 orang ini, ingin lebih mengenal produk-produk olahan mangrove apa saja yang dikembangkan oleh warga binaan KeSEMaT. Mereka akan membuat proposal pemasaran bisnis untuk tugas kuliah dengan keluaran yang dihasilkan berupa pemasaran yang lebih luas terhadap produk batik dan jajan mangrove yang diproduksi oleh warga binaan KeSEMaT, yaitu Kelompok Srikandi Pantura dan Bina Citra Karya Wanita.

Anggoro Da’an Budi Saputro (Staf Manajer Keuangan dan Operasional) menjelaskan bahwa Srikandi Pantura dan Bina Citra Karya Wanita, masing-masing mengolah batik mangrove berlabel Mas Bamat, jajanan mangrove berlabel Mbak Jamat dan suvenir mangrove berlabel Mbah Sumat.

Mbak Jamat menghasilkan diversifikasi produk dari tepung mangrove, seperti kue lumpur, cendol, stik, kerupuk dan lain-lain. Sementara itu, Mas Bamat memiliki produk andalan berupa batik dan pewarna mangrove. Mbah Sumat juga mempunyai produk utama, yaitu tote bag dan taplak-meja mini berbahan batik mangrove.

Penjelasan mengenai aneka produk olahan mangrove bukan kayu oleh KeMANGI.

“Jajanan Mbak Jamat rasanya enak, ada rasa khas mangrovenya, dan aromanya juga wangi,” ujar Riri (mahasiswa Sekolah Vokasi). “Untuk batik Mas Bamat, juga sangat menarik dan cantik dengan berbagai motif bertema mangrove, pesisir dan laut,” pujinya.

Mufidah (Srikandi Pantura) menjelaskan bahwa pewarna batik mangrove dihasilkan dari propagul-kering yang sudah membusuk dan jatuh ke tanah. Tersedia dua jenis batik mangrove yang dijual di pasaran, yaitu tulis dan cap.

Serupa dengan Mas Bamat, suvenir Mbah Sumat juga berasal dari batik mangrove yang diolah menjadi suvenir, seperti tas pouch, taplak meja, tas, syal dan masih banyak lagi yang lainnya.

Para mahasiswa menanyakan mengenai brand positioning produk mangrove dari warga binaan KeSEMaT yang menggunakan nama Jawa, yaitu Mbak, Mas dan Mbah.

”Kami sengaja memilih nama Mbak Jamat, Mas Bamat dan Mbah Sumat sebagai identitas kami. Hal ini berarti bahwa produk-produk mangrove kami tersebut berasal dari Jawa, Indonesia,” jelas Anggoro. “Pada saat dijual ke luar negeri, buyer kami di sana sangat tertarik dengan konsep brand kami ini, karena namanya unik sehingga mereka memborongnya,” lanjutnya.

Foto bersama Mbak Jamat, Mas Bamat dan Mbah Sumat.

Mufidah mengucapkan terima kasih kepada para mahasiswa yang sudah berkunjung ke Sentra Batik dan Jajanan Mangrove Semarang di SMC Jateng.

“Saya sangat mengapresisasi niat baik Adik-adik mahasiswa untuk lebih memperkenalkan produk-produk mangrove dari Srikandi Pantura dan Bina Citra Karya Wanita ke lingkup yang lebih luas lagi,” tutur Mufidah.

Tidak lupa, di akhir kunjungan, para mahasiswa membeli Mbak Jamat, Mas Bamat dan Mbah Sumat untuk keluarga di rumah. Keseluruhan kegiatan yang dimulai dari pukul 16.00 – 18.00 WIB ini berlangsung dengan baik dan lancar yang ditutup dengan foto bersama. (ENBU/ADM).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *